Skrining Pendengaran pada Bayi Baru Lahir

Gangguan pendengaran pada bayi dan anak sulit dideteksi dari awal karena gejalanya tidak khas dan sebagian orangtua sering mengabaikan. Keterlambatan deteksi adanya gangguan pendengaran akan mengakibatkan terganggunya proses bicara dan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu pentingnya dilakukan skrining pendengaran pada bayi baru lahir.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, skrining bayi baru lahir yang perlu diketahui oleh orang tua ada tiga, yaitu skrining pendengaran bayi baru lahir, skrining penglihatan bayi prematur dan skrining hipotiroid.

Tes pendengaran pada bayi baru lahir tentunya sangat penting untuk dilakukan, guna mengetahui kemampuan bayi Anda dalam mendengar.

Gangguan pendengaran pada bayi dan anak sulit diketahui sejak awal. Di beberapa rumah sakit sudah termasuk skrining yang rutin, mengingat:

  1. Adanya periode kritis perkembangan pendengaran dan berbicara, yang dimulai dalam 6 bulan pertama Kehidupan dan terus berlanjut sampai usia 2 tahun.
  2. Bayi yang mempunyai gangguan pendengaran bawaan atau didapat yang segera diintervensi sebelum usia 6 bulan, pada usia 3 tahun akan mempunyai kemampuan berbahasa normal dibandingkan bayi yang baru diintervensi setelah berusia 6 bulan.

Tes skrining pendengaran wajib pada bayi baru lahir, baik itu dengan atau tanpa resiko (Universal Newborn Hearing Screening). Menurut suatu kepustakaan 50 % bayi tidak terdapat faktor resiko dapat mengalami gangguan pendengaran bawaan/kongenital.

Faktor resiko yang bisa menyebabkan bayi mengalami gangguan pendengaran bawaan adalah faktor Genetik dan Non Genetik. 

Non Genetik dibagi menjadi:

  1. Pada saat ibu hamil: Infeksi  Virus TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalovirus, Herpes), Pemakaian obat Ototoksik, Keracunan selama kehamilan, Pre eklamsia
  2. Pada saat bayi lahir: Berat badan lahir rendah, Kadar bilirubin yang meningkat, Hipoksia atau kekurangan oksigen, Lahir Prematur, Terdapat kelainan anatomi wajah, Mengalami infeksi selaput otak, Perawatan di NICU.

Kapan Tes Pendengaran Akan Berlangsung?

Source: freepik.com

Tes skrining pendengaran pada bayi dapat dilakukan mulai dari usia 2 hari sampai 1 bulan. Tes pendengaran biasanya dilakukan saat Anda masih berada di rumah sakit bersalin. Namun, di beberapa daerah tes tersebut dapat dilakukan di rumah. Bidan akan memberitahu Anda di mana dan kapan tes skrining akan dilakukan.   

Apa Saja yang Termasuk Dalam Skrining?

Source: freepik.com

Dilansir dari pregnancybirthbaby, skrining pendengaran pada bayi dibagi menjadi dua jenis tes, yaitu Automated Auditory Brainstem Response (AABR) dan Otoacoustic Emissions (OAEs). Berikut penjelasannya:

  1. AABR (Automated Auditory Brainstem Respons) – Dokter menggunakan bantalan lengket yang mengarah ke dahi bayi Anda, belakang telinga. Earphone kecil kemudian ditempatkan di atas telinga bayi. Earphone tersebut mengeluarkan suara pelan dan keras untuk melihat respons dari telinga bayi Anda.
  2. OAE (Otoacoustic Emission) – Alat suara kecil yang ditempatkan di bagian luar telinga bayi Anda, lalu alat tersebut mengirimkan bunyi di telinga, ketika telinga menerima suara, bagian dalam yang dikenal sebagai koklea biasanya menghasilkan gema. Peralatan skrining ini bertujuan untuk melihat respons bayi.

Tes tersebut hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja dan tidak akan melukai bayi Anda. Tes skrining pendengaran biasanya dilakukan saat bayi Anda sedang tidur.  Anda dapat melihat bayi Anda saat tes skrining selesai.

Hasil Tes Skrining Pendengaran?

Anda akan mendapatkan hasilnya setelah tes selesai. Hasilnya akan ditulis oleh dokter dalam buku Catatan Kesehatan Pribadi bayi Anda.

Untuk skrining pendengaran ada beberapa hal yang dapat mengganggu hasil kurang baik, seperti: 

  • Cairan atau zat lain yang masuk ke liang telinga selama kelahiran
  • Cairan telinga tengah sementara
  • Tempat pemeriksaan berlangsung terlalu berisik, atau bayi Anda terlalu gelisah

Bila hasil tes skrining  pendengarannya refer artinya tidak lulus uji pemeriksaan bukan berarti anak Anda terdapat gangguan pendengaran. Tes Diagnosis pendengaran akan diulang pada saat umur bayi 3 bulan. Tes tersebut adalah OAE Diagnosis, Tympanometri, BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) dan ASSR (Auditory Steady State Response). Setelah hasil pemeriksaan pendengaran diagnosis selesai, dokter THT dan audiologis akan menentukan langkah selanjutnya. Bila ternyata ada gangguan pendengaran Tuli saraf bawaan sebelum 6 bulan sebaiknya bayi sudah dilakukan interverensi dan habilitasi sehingga yang kita harapkan adalah pada umur 3 tahun anak tersebut bisa berbicara sesuai dengan anak normal.

Tetapi, orangtua juga dapat menolak dilakukannya pemeriksaan pendengaran bayi baru lahir.  Ini akan dicatat dalam Catatan Kesehatan Pribadi anak Anda. Anda juga akan diminta untuk menandatangani formulir yang mengonfirmasi bahwa ketika tawaran tes skrining pendengaran ditolak. Jika Anda memilih untuk tidak memeriksakan bayi Anda, Anda tetap harus mendapatkan informasi mengenai tes skrining yang penting dilakukan.

Itulah beberapa penjelasan mengenai tes skrining pendengaran pada bayi baru lahir. Jika Anda khawatir dengan pendengaran anak Anda atau perkembangan bicara dan bahasa di masa depan, segeralah lakukan tes pendengaran anak. Karena pendengaran dapat diuji pada usia berapapun. Anda juga bisa konsultasikan pada kami!

Bersama Ruang Mendengar, Anda dengan mudah dapat mencari jawaban masalah pendengaran Anda. Ruang Mendengar menyediakan konsultasi gratis baik secara online maupun offline, mendampingi serta menyajikan informasi terpercaya dan terlengkap tentang masalah pendengaran. 

Tunggu apalagi, segera hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

ARTIKEL TERKAIT