Gangguan Pendengaran Konduktif, Apa dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Telinga memiliki fungsi yang sangat penting bagi manusia. Salah satu kegunaannya adalah untuk mendengar dan sebagai organ keseimbangan tubuh. Namun apa jadinya jika telinga kita mengalami gangguan pendengaran konduktif? Tentunya hal tersebut akan membuat Anda tidak nyaman, dan kemampuan telinga untuk mendengar pun ikut menurun.

Gangguan pendengaran konduktif atau sering disebut dengan tuli konduktif dapat terjadi pada siapa pun, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Menurut National Center of Biotechnology Information, tuli konduktif justru lebih banyak menjangkiti anak muda. Hal ini disebabkan adanya otitis media yang disertai dengan efusi, bahkan sebuah studi pada anak usia sekolah dasar, tuli konduktif dapat mengurangi pendengaran hingga 15%.

Penyebab Gangguan Pendengaran Konduktif

Proses mendengar pada telinga dimulai dari tertangkapnya gelombang suara di sekitar kita oleh daun telinga. Gelombang suara kemudian diteruskan menuju gendang telinga dan menggetarkan gendang telinga. Getaran tersebut menyebabkan ketiga tulang pendengaran di telinga tengah ikut bergetar dan getaran diteruskan sampai ke koklea. Ketika koklea bergetar maka sel-sel rambut di dalam koklea menjadi bergetar dan menghasilkan impuls-impuls elektrik yang kemudian diteruskan ke saraf pendengaran hingga diteruskan ke otak. Namun, apabila ada kerusakan di telinga tengah, maka akan terjadi tuli konduktif.

Tuli konduktif biasanya terjadi akibat adanya gangguan di telinga luar atau tengah, misalnya menumpuknya kotoran telinga atau adanya cairan di telinga tengah. Gangguan ini mengakibatkan suara yang dihantarkan tidak dapat diteruskan ke otak. Akhirnya, kemampuan mendengar kita berkurang.

Orang yang menderita tuli konduktif biasanya mengalami kesulitan mendengar suara pelan. Bahkan, suara yang keras dan bising pun akan terdengar lebih pelan bagi orang yang menderitanya.

Dikutip dari American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), berikut ini adalah sebab-sebab tuli konduktif:

  1. Cairan telinga yang menumpuk
  2. Infeksi telinga tengah atau otitis media
  3. Tuba Eustachius yang mulai tidak berfungsi
  4. Gendang telinga robek
  5. Tumor jinak
  6. Kotoran telinga atau serumen yang menumpuk
  7. Infeksi liang telinga
  8. Sebuah benda mungkin tersangkut di dalam telinga

Itulah beberapa penyebab dari gangguan telinga konduktif yang bisa saja menimpa Anda. Apapun penyebabnya, tuli yang terjadi secara tiba-tiba ataupun tuli yang terjadi bertahap adalah kondisi yang harus segera diperiksakan ke dokter THT.

Untuk menentukan penyebab dan keparahan tuli konduktif, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada telinga. Dokter THT akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes pendengaran audiometri, CT scan, dan MRI telinga.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Sebelum semakin parah, gejala-gejala tuli konduktif yang muncul harus segera Anda waspadai. Dikutip dari ENTHealth, setidaknya ada beberapa gejala yang mesti diwaspadai. Diantaranya: pendengaran berkurang, pendengaran hilang tiba-tiba, telinga terasa tersumbat, pusing, hingga nyeri di bagian telinga. Apabila Anda merasakan gejala tersebut, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya.

Cara Mengatasi Gangguan Pendengaran Konduktif

Setelah Anda mendapatkan hasil pemeriksaan medis dan terbukti mengalami gangguan pendengaran konduktif, setidaknya ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

  1. Anda bisa memulainya dengan membersihkan kotoran telinga. Salah satu metode yang bisa Anda lakukan adalah dengan metode irigasi telinga yang dilakukan oleh dokter. Namun, Anda pun bisa melakukannya sendiri di rumah dengan alat khusus dengan catatan mengikuti panduan dari dokter.
  2. Lakukan pengobatan infeksi telinga. Hal ini penting Anda lakukan ketika menemukan infeksi pada telinga. Anda bisa menggunakan obat tetes telinga, atau obat yang dikonsumsi sesuai resep dari dokter THT.
  3. Memasang alat bantu dengar untuk mempermudah menangkap suara. Alat bantu dengar ini bekerja dengan cara mengubah getaran suara menjadi impuls listrik untuk diterima oleh saraf pendengaran, sehingga proses pendengaran bisa berlangsung dengan lebih lancar.
  4. Anda bisa melakukan pemasangan implan koklea. Sebenarnya, implan koklea dipasang bagi orang yang menderita gangguan pendengaran sensorineural. Namun, hal ini bisa berguna bagi mereka yang mengalami gangguan pendengaran konduktif yang sudah akut dan tidak tertolong dengan menggunakan alat bantu dengar.

Pencegahan Gangguan Pendengaran Konduktif

Selalu ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut ini adalah upaya pencegahan yang bisa Anda lakukan.

  1. Hindari menyalakan televisi, radio, atau musik dengan volume yang terlalu keras. Suara yang terlalu keras akan berbahaya bagi telinga Anda.
  2. Anda bisa menggunakan pelindung telinga. Misalnya seperti headphone, ear muff, atau ear plug untuk memblokir suara yang terlalu keras ketika bekerja atau saat berada di tempat yang bising.
  3. Tidak memasukkan jari atau benda-benda seperti cotton buds, kapas, kain, dan tisu ke dalam telinga. Hal ini dapat membuat kotoran telinga masuk semakin dalam dan bahkan melukai telinga Anda.
  4. Melakukan pemeriksaan pendengaran secara rutin. Pemeriksaan ini setidaknya Anda lakukan satu atau dua tahun sekali, terutama jika lingkungan kerja Anda di tempat yang bising.
  5. Segera lakukan pengobatan jika keluarga anda mengalami flu terutama pada anak-anak. Pengobatan flu dengan cepat dan tepat akan mencegah terjadinya infeksi telinga tengah.

Karena fungsi pendengaran begitu penting, maka jagalah kesehatan telinga Anda agar tercegah dari tuli konduktif atau pun gangguan pendengaran lainnya.

Namun, apabila Anda mulai merasakan gangguan pendengaran pada telinga Anda, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada kami.

Bersama Ruang Mendengar, Anda tidak perlu sulit mencari jawaban masalah pendengaran. Ruang Mendengar menyediakan konsultasi gratis baik secara online maupun offline, memberikan pendampingan, serta menyajikan informasi terpercaya tentang masalah pendengaran.

ARTIKEL TERKAIT