11 Jenis Tes Pendengaran yang Perlu Anda Ketahui!

Tes pendengaran adalah tes yang dilakukan untuk mengukur kemampuan mendengar seseorang. Dalam proses pemeriksaan, audiolog akan mengukur seberapa baik gelombang suara bisa sampai ke otak Anda.

Ketika Anda mendengar, akan terbentuk gelombang suara yang masuk ke telinga. Gelombang suara tersebut mengakibatkan getaran pada gendang telinga. Getaran ini akan menghantarkan gelombang suara ke sel-sel saraf yang mengirim sinyal ke otak. Akhirnya informasi tersebut akan diterjemahkan di otak dan menjadi suara yang kita dengar. 

Pada tahun 2019 World Health Organization (WHO) memperkirakan ada sekitar 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran. Sebanyak 360 juta atau sekitar 5,3% penduduk dunia mengalami ketulian. Sementara di Indonesia data penduduk dengan gangguan pendengaran dibagi berdasarkan kelompok umur. Pada kelompok umur 75 tahun ke atas ada sekitar 36,6% yang mengalami gangguan pendengaran. Disusul oleh kelompok umur 65-74 tahun dengan persentase 17,1%. Lalu, kelompok umur yang terakhir pada kelompok umur 5-14 tahun dan 15-24 tahun dengan persentase masing-masing 0,8%.

Data di atas menunjukkan bahwa banyak orang yang mengalami gangguan pendengaran. Oleh karena itu, Anda perlu waspada dan peduli dengan kesehatan telinga Anda. Ada beberapa gejala gangguan pendengaran yang perlu Anda tahu. Berikut beberapa di antaranya:

Indikasi Gangguan Pendengaran

Anda disarankan melakukan tes pendengaran jika mengalami beberapa gejala di bawah ini:

  • Orang lain merasa terganggu karena Anda bicara dengan suara yang keras.
  • Menonton televisi atau mendengarkan radio dengan volume yang tinggi, hingga orang lain merasa terganggu.
  • Merasa telinga Anda berdenging.
  • Anda kesulitan mendengar perkataan orang lain, terutama di tempat yang bising.
  • Anda sering meminta lawan bicara mengulangi perkataannya.

Sementara pada anak-anak dan bayi dianjurkan melakukan tes pendengaran, jika mengalami beberapa gejala berikut:

  • Jika anak Anda tidak lolos skrining pendengaran di awal pemeriksaan, yakni sebelum menginjak usia satu bulan.
  • Memiliki gangguan pendengaran yang berkembang perlahan selama proses pertumbuhan bayi.
  • Anda merasa anak atau bayi mengalami kehilangan pendengaran.

Jika Anda atau anak mengalami gejala di atas maka dianjurkan untuk tes pendengaran secepatnya. Namun, sebelum tes beritahu kondisi kesehatan Anda kepada dokter. Misalnya, jika Anda sedang menderita infeksi telinga atau flu, karena kondisi tersebut akan memengaruhi hasil tes pendengaran yang akan Anda lakukan.

Selain itu beritahu dokter, bila Anda sedang mengonsumsi obat, produk herbal, atau suplemen. Dikhawatirkan, suplemen atau obat tersebut dapat memengaruhi hasil tes. Sementara itu bagi anak-anak yang akan menjalani tes, akan diberikan obat penenang oleh dokter agar tidak rewel saat tes.

11 Jenis Tes Pendengaran

Ada berbagai jenis tes yang bisa dilakukan untuk memeriksa pendengaran Anda. Setiap gangguan pendengaran pastinya punya gejala dan penyebab yang berbeda-beda, sehingga tes pendengarannya pun berbeda. Berikut jenis-jenis tes pendengaran yang perlu Anda ketahui:

1. Tes Suara Bisik

Tes suara bisik dilakukan dengan membisikkan kata-kata yang cukup umum Anda dengar. Dalam tes ini, Anda akan diminta untuk menutup lubang telinga yang tidak diperiksa. Lalu, dokter akan membisikkan kata-kata dan meminta Anda untuk mengulanginya.

Dokter akan berbisik dalam jarak kurang dari satu meter di belakang Anda. Bila Anda tidak bisa mengulangi kata yang disampaikan, maka dokter akan menggunakan kombinasi angka dan huruf berbeda. Dokter juga bisa membisikkan kata dengan suara lebih keras sampai Anda mendengarnya.

Setelah tes salah satu telinga Anda selesai, akan dilanjutkan untuk tes telinga lainnya. Anda berhasil lulus tes suara bisik, jika bisa mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh dokter sebanyak 50%.

2. Tes Audiometri Nada Murni

Pada tes ini dokter akan menggunakan alat yang disebut audiometer, alat inilah yang menghasilkan nada murni. Anda akan mendengar nada-nada melalui headphone, yaitu nada-nada dengan frekuensi dan intensitas suara yang berbeda, mulai 250 Hz hingga 8000 Hz.

Tes akan dimulai dengan intensitas suara yang masih terdengar, lalu dikurangi secara bertahap sampai tidak terdengar oleh Anda. Lalu, intensitas suara kembali dinaikkan sampai Anda bisa mendengarnya. Dokter akan meminta tanda jika Anda masih bisa mendengar suara.

3. Tes Garpu Tala

Dalam tes ini, dokter akan menggunakan garpu tala dengan frekuensi 256-512 Hz. Tes bertujuan untuk melihat reaksi Anda terhadap getaran dan suara di dekat kedua telinga. Tes garpu tala dilakukan dengan tiga cara.

Pertama, tes Rinne dilakukan dengan membenturkan garpu tala, lalu meletakkannya di bagian samping dan belakang telinga Anda. Kedua, tes Schwabach dilakukan dengan bantuan orang yang memiliki pendengaran normal. Ketiga, tes Weber dilakukan dengan membenturkan garpu tala, lalu meletakkannya di bagian tengah dahi Anda.

4. Speech Perception Test

Tes ini dilakukan untuk memeriksa seberapa jelas Anda dapat mendengar ucapan. Anda akan diminta mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh dokter. Bagi penderita presbikusis hilangnya pendengaran dimulai pada frekuensi yang tinggi. Sehingga suara ucapan tertentu (seperti “t”, “f”, dan “p”) terdengar mirip.

5. Tes Audiometri Tutur

Anda akan diminta memakai headphone dalam tes ini. Kemudian, dokter akan memperdengarkan kata-kata melalui headphone dengan volume yang berbeda-beda. Setelah itu, dokter akan meminta Anda mengulangi kata-kata yang terdengar.

Ada dua tujuan yang diperoleh dari tes ini. Pertama, untuk mengetahui apakah Anda bisa memahami dan membedakan berbagai kata yang diucapkan oleh dokter. Kedua, untuk mengetahui seberapa keras suara yang harus diperdengarkan hingga Anda bisa mendengarnya.

6. Timpanometri

Tes ini dilakukan untuk memeriksa telinga bagian tengah, yang terdiri dari tiga tulang kecil dan gendang telinga. Bagian ini yang menghubungkan gendang telinga ke telinga bagian dalam. Dokter akan memasang sebuah alat kecil di liang telinga Anda, untuk memeriksa apakah ada cairan di belakang gendang telinga. Timpanometri hanya dilakukan untuk memeriksa telinga bagian tengah. Sehingga dokter akan menyarankan melakukan tes lain bila hasil tes Anda abnormal.

7. Brainstem Evoked Response Auditory (BERA)

Dalam tes BERA atau disebut juga brainstem auditory evoked response (BAER), elektroda akan ditempelkan di ubun-ubun dan daun telinga Anda atau tergantung dari jenis alat pemeriksaannya. Anda akan mendengar suara klik atau nada tertentu dari earphone. Setelah itu, mesin akan merekam respon otak Anda terhadap suara tersebut.

BERA mengukur saraf listrik yang membawa suara dari telinga bagian dalam ke otak. Setiap kali Anda mendengar suara yang dihasilkan mesin, maka hasil tes akan menunjukkan peningkatan aktivitas otak. Jika hasil tes tidak menunjukkan peningkatan, ada kemungkinan Anda mengalami gangguan pendengaran. Selain itu hasil tes yang tidak normal, juga bisa menunjukkan bahwa ada gangguan pada otak atau sistem saraf Anda.

8. Stapedius Reflex Test

Tes ini bertujuan untuk memeriksa kemampuan saraf pendengaran dalam mengirimkan sinyal pendengaran ke otak. Anda membutuhkan bantuan dokter, apabila terjadi penyumbatan di sepanjang jalur saraf tersebut.

9. Otoacoustic Emissions (OAE)

Tes otoacoustic emissions (OAE) dilakukan untuk memeriksa gangguan di telinga bagian dalam, terutama bagian rumah siput (koklea). Dokter menggunakan alat kecil yang dilengkapi dengan pengeras suara dan earphone yang diletakkan di liang telinga Anda.

Dokter akan melihat respon koklea Anda dengan menghantarkan suara melalui alat kecil tersebut. Respon akan terlihat di layar monitor, sehingga Anda tidak perlu memberikan tanda kepada dokter. Melalui tes OAE dokter bisa mendeteksi penyumbatan di bagian luar dan tengah telinga. Selain itu, tes ini juga bisa menentukan jenis gangguan pendengaran yang Anda derita.

10. Acoustic Reflex Measures (ARM)

Acoustic reflex measures (ARM) disebut juga middle ear muscle reflex (MEMR). Tes ini dilakukan untuk mengetahui respon telinga terhadap suara nyaring. Jika pendengaran Anda normal, otot kecil dalam telinga Anda akan mengencang bila mendengar suara yang nyaring.

Dalam tes ini, lubang telinga Anda akan dipasang karet kecil yang terhubung ke mesin perekam. Lalu, Anda akan mendengar suara keras melalui karet kecil tersebut dan mesin akan merekam respon Anda. Jika kondisi pendengaran Anda buruk, maka dibutuhkan suara yang lebih keras agar telinga Anda dapat merespon suara.

11. Threshold Equalizing Noise (TEN) Test

Tes pendengaran ini bertujuan untuk memeriksa apakah ada bagian telinga yang tidak bisa merespon rangsangan suara. Bagian telinga yang tidak bisa merespon disebut sebagai, “dead zone” atau “zona mati”. Hasil pemeriksaan ini akan digunakan audiolog untuk menentukan alat bantu sesuai kebutuhan Anda.

Itulah penjelasan tentang sebelas jenis tes pendengaran yang perlu Anda tahu. Jika Anda tidak mempunyai waktu untuk konsultasi kesehatan telinga Anda dengan dokter secara langsung, maka Ruang Mendengar bisa menjadi pilihan yang tepat. 

Kami memberikan konsultasi gratis terkait kesehatan telinga. Kami juga bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang ahli di bidangnya. Sehingga, Anda tidak perlu ragu untuk konsultasi kepada kami.

ARTIKEL TERKAIT